Saya Punya Kamera, Saya adalah Fotografer

Friday, April 26th, 2013 - Artikel
Advertisement

Semakin murah dan gampangnya penggunaan kamera DSLR di saat ini, membuat semua orang bisa memotret tanpa harus perlu memperhatikan eksposure. Saya heran, melihat teman-teman di luar sana memperlakukan kamera sebagai style dan ajang keren-keren-an, tanpa basic apalagi eksplorasi mereka dengan pede menyatakan diri sebagai seorang fotografer.

Apa itu Fotografer

ADVERTISERS

Saya bertanya dalam diri sendiri, apakah profesi ini di ukur dari alat yang di pakainya? Menciptakan sebuah foto, menurut saya tidak cukup dengan teknik, kecantikan model, dan view lokasi yang memang telah bagus. Fotografi bukanlah memindahkan objek, namun memperindah objek.

Kalau sekedar teknik menurut saya semua orang bisa menguasai teknik fotografi dalam waktu sebulan saja, namun untuk menciptakan foto yang bagus, pastinya harus memiliki jam terbang yang tinggi dan pengalaman yang tinggi pula dalam memotret. Di dalam fotografi terdapat berbagai unsur ilmu lain, seperti nirmana dan komposisi.

Nirmana dan komposisi biasanya di terapkan dalam membuat lukisan, lukisan dan foto sama-sama membuat rupa cuma beda medianya maka ilmu ini juga bisa di terapkan di dalam fotografi. Kenapa rangkaian kawat bangunan bisa terlihat menarik? Karena di dalam foto tersebut ada unsur nirmananya, ada perhitungan komposisi serta mempertimbangkan arah cahayanya, kalau ke tiga hal tersebut sudah di perhitungkan dengan matang, teknik hanya sekedar mengikuti saja.

Kata fotografi sendiri berasal dari bahasa yunani yaitu photographos yang berarti menggambar dengan cahaya, tanpa cahaya seseorang tidak akan bisa menciptakan foto. Berlandaskan dengan namanya sendiri jelas cahaya menjadi faktor utama dalam penciptaan karya foto. Cahaya yang kreatif, membuat foto terlihat lebih hidup dan unik, membuat orang mau melihat foto itu lama-lama.

Foto dengan cahaya monoton, menurut saya adalah foto yang biasa-biasa saja. Setiap karakter cahaya mampu menghadirkan suasana yang berbeda-beda, tergantung dari kita bagaimana memanfaatkannya. Banyak orang yang terpengaruh dengan alat saat memotret. Entah itu lensa atau jenis kamera.

Sekarang, yang menciptakan karya foto fotografer atau kameranya? Saya menganalogikan kamera sama seperti kuas, adalah alat untuk membuat karya seni. Dan banyak juga orang yang gelisah karena tidak memiliki alat dan tidak mampu menciptakan foto seperti yang mereka inginkan.

Kurangnya eksplorasi terhadap kamera dan lensa sendiri, itu yang menyebabkan kebuntuan. Harusnya dengan sebuah lensa standar saja kita bisa menciptakan berbagai efek lensa lainnya, bahkan lensa mahal sekalipun. Sebagian orang bersikukuh tidak ingin melakukan olah digital dengan fotonya.

Menurut saya idealis seperti ini yang menghambat kreatifitas. Kamera dan manusia sama-sama tidak sempurna, situasi di lapangan dengan di rumah adalah berbeda. Saat kita melihat foto untuk di revisi, mata kita akan lebih jeli melihat kekurangan foto tersebut, olah digital bagaimanapun di perlukan saat foto tidak sesuai dengan keinginan kita, kita harus merombaknya agar sesuai dengan kehendak, tidak hanya diam dan pasrah saja dengan kamera, yang membuat foto siapa? Kamera apa fotografernya?.

Saat kamera telah menjadi style dan ajang keren-keren-an di saat inilah daya kreatif mulai hilang. Ilmu fotografi tidak lagi berguna, semua orang bebas bicara kalau dia adalah fotografer dengan alasan dia membuat karya foto walau hanya sekedar foto narsis semata. Bagaimana orang memandang itu sebagai karya, menurut saya di lihat dari proses dan konsepnya dalam berkarya bukan hanya karena punya kamera dan asal jepret tanpa mengetahui dasar-dasar dan etika fotografi.

Harapan saya, kita jangan memandang foto sebagai foto dalam artian print kertas dan file digital saja. Foto punya makna lebih dari itu. Fotografi merupakan bagian dari seni dan seni memiliki etika dan aturannya sendiri. Setiap karya yang di hasilkan memiliki pertanggung jawaban dari fotografernya.

Berkarya seni bukan segampang membalikkan telapak tangan, di butuhkan wawasan dan ekplorasi dalam proses penciptaannya. Fotografi juga bukan sekedar hobi dan lahan mencari uang semata, namun lebih juga merupakan alat komunikasi dan dokumentasi, foto menjadi sangat menarik karena di dalamnya memiliki cerita.

Artikel “Saya Punya Kamera, Saya adalah Fotografer” dikirim ke blog belajar teknik fotografi tipsfotografi.net oleh┬áRizky Januar seorang Mahasiswa Fotografi di Institut Seni Indonesia-Yogyakarta. Pernah bekerja di Rumah Gambar Production (RGB) tahun 2010, dan sekarang aktif sebagai wartawan lepas di media online lenteratimur.com, dan juga aktif mengikuti pameran Fotografi.

Advertisement
Saya Punya Kamera, Saya adalah Fotografer | Lensa Kita | 4.5

Klik LIKE bergabung bersama mereka di facebook tipsfotografi.net